Mengenal Gejala Rhinitis

Kamis, 29 Oktober 2015
Mengenal Gejala Rhinitis , Rhinitis adalah peradangan dan iritasi yang terjadi di membran mukosa di dalam hidung. Secara garis besar rhinitis dibagi menjadi dua, yaitu rhinitis alergi dan rhinitis nonalergi. Rhinitis alergi atau yang disebut juga hay fever disebabkan oleh alergi terhadap unsur seperti debu, kelupasan kulit hewan tertentu, dan serbuk sari. Sedangkan rhinitis nonalergi tidak disebabkan oleh alergi tapi kondisi seperti infeksi virus dan bakteri.

Gejala Klinis Rhinitis Alergi
  • bersin - bersin berulang. namun hal ini bisa merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process) dari kotorang. atau juga bisa bersifat bersin patologik, bila terjadinya lebih dari 5 kali setiap serangan, sebagai akibat dilepaskannya histamin. Disebut juga sebagai bersin patologis (Soepardi, Iskandar, 2004).
  • keluar ingus (rinore) yang encer  dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan
  • Tanda gejala di mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). edema kelopak mata, kongesti konjungtiva, lingkar hitam dibawah mata (allergic shiner)
  • mukosa hidung yang dapat muncul kebiruan.
  • Lubang hidung bengkak. Disertai dengan sekret mukoid atau cair.
  • Tanda pada telinga termasuk retraksi membran timpani atau otitis media serosa sebagai hasil dari hambatan tuba eustachii.
  • Tanda faringeal termasuk faringitis granuler akibat hiperplasia submukosa jaringan limfoid. Tanda laringeal termasuk suara serak dan edema pita suara  (Bousquet, Cauwenberge, Khaltaev, ARIA Workshop Group. WHO, 2001). 
    Gejala lain yang tidak khas dapat berupa: batuk, sakit kepala,
    Gangguan dalam penciuman, mengi, penekanan pada sinus dan nyeri wajah. Beberapa orang juga mengalami lemah dan lesu, mudah marah, kehilangan nafsu makan dan sulit tidur (Harmadji, 1993).
 
Penyebab Gejala Rhinitis 
  1. Penyebab Rhinitis Alergi

    Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya rhinitis alergi, di antaranya adalah sistem kekebalan tubuh yang terlalu sensitif. Sistem kekebalan tubuh alami menganggap alergen berbahaya dan bereaksi dengan memproduksi antibodi untuk melawannya.

    Ketika pertama kali terpapar unsur alergen, sistem kekebalan tubuh tidak langsung bereaksi dan menyebabkan gejala alergi. Sistem kekebalan tubuh menjalani proses yang disebut sensitisasi terlebih dahulu, yaitu proses untuk mengenali dan mengingat alergen. Pada paparan berikutnya dengan alergen, sistem kekebalan tubuh akan memproduksi antibodi dan menyebabkan reaksi alergi.

    Antibodi akan menyebabkan produksi lendir berlebih dan pembengkakan lapisan dalam hidung. Itu sebabnya penderita rhinitis alergi biasanya akan mengalami gejala-gejala hidung berair atau tersumbat dan bersin-bersin.

    Berikut ini adalah beberapa alergen yang ada di udara yang bisa memicu terjadinya rhinitis:

    • Kelupasan kulit mati hewan. Banyak orang alergi terhadap hewan, seperti anjing dan kucing, dan menganggap bahwa bulunya yang menyebabkan reaksi alergi, namun sebenarnya adalah kotoran dan kelupasan kulit mati hewan tersebut.
    • Alergen di tempat kerja. Beberapa orang yang bekerja di lingkungan yang terdapat alergen seperti lateks, debu lantai, atau debu kayu bisa mengidap rhinitis akibat terpapar unsur-unsur tersebut di tempat kerja.
    • Tungau debu rumah. Rhinitis dapat dipicu oleh zat kimia yang terdapat pada kotoran tungau yang sering ditemukan di kasur dan bantal, karpet, dan matras.
    • Serbuk sari dan spora. Pepohonan dan rerumputan memproduksi partikel kecil serbuk sari yang bisa memicu rhinitis alergi. Selain itu, fungi dan kapang memproduksi spora yang bisa memicu rhinitis alergi juga.

    Kebanyakan rhinitis alergi merupakan kondisi yang diturunkan oleh orang tua. Selain itu, anak yang bertumbuh dewasa dengan anggota keluarga yang merokok atau dengan binatang peliharaan juga lebih rentan mengalami rhinitis alergi.
  2. Penyebab Rhinitis Non-alergi

    Hampir sama seperti rhinitis alergi, gejalanya meliputi cairan yang berlebihan di hidung dan membengkaknya pembuluh darah di dalam rongga hidung. Namun penyebab rhinitis nonalergi berbeda dengan rhinitis alergi, berikut ini adalah beberapa penyebab utama rhinitis nonalergi.

    • Lingkungan. Faktor lingkungan dapat memicu terjadinya rhinitis pada sebagian orang, seperti perubahan cuaca, wangi parfum, asap rokok, dan uap cat. Rhinitis autonomic atau vasomotor adalah istilah medis yang digunakan untuk rhinitis yang dipicu oleh faktor lingkungan. Orang yang memiliki pembuluh darah rongga hidung yang sangat sensitif diyakini bisa terkena rhinitis tipe ini, namun penyebab pastinya tidak diketahui.
    • Kerusakan jaringan. Lapisan jaringan di dalam hidung yang disebut dengan turbinates sangat penting untuk menjaga kelembapan bagian dalam hidung dan menjaga tubuh dari infeksi bakteri. Jika turbinates rusak atau diangkat, rhinitis bisa terjadi, karena jaringan yang tersisa menjadi keras, mudah terinfeksi, dan meradang.
    • Penggunaan dekongestan rongga hidung berlebih. Lapisan hidung akan membengkak kembali dan keadaan akan makin parah jika penggunaan obat semprot dekongestan digunakan secara berlebihan atau lebih dari enam hari. Istilah medis untuk masalah ini disebut rhinitis medicamentosa.
    • Infeksi. Terkadang infeksi fungi atau bakteri dapat menyebabkan terjadinya rhinitis, namun tidak sesering infeksi virus seperti pilek.
    • Ketidakseimbangan hormon. Hormon sangat berperan dalam pembesaran pembuluh darah rongga hidung dan dapat memicu rhinitis nonalergi. Perubahan hormon biasanya terjadi saat masa pubertas, hamil, atau sedang menjalani pengobatan hormon, seperti terapi pergantian hormon, dan pil kontrasepsi. Selain itu, kadang-kadang rhinitis juga dapat terjadi akibat hipotiroidisme atau kurang aktifnya kelenjar tiroid.
    • Obat-obatan. Terkadang obat-obatan tertentu dapat menyebabkan efek samping rhinitis, seperti obat pereda nyeri atau obat antiinflamasi non-steroid (OAINS), obat gangguan jantung (beta-blocker), obat anti-hipertensi (penghambat ACE), serta penyalahgunaan kokain.
    • Stres. Beberapa orang mengalami rhinitis nonalergi yang dipicu oleh stres, baik secara emosional maupun fisik.
    • Makanan dan minuman. Makanan pedas dan minuman beralkohol bisa menyebabkan selaput di dalam hidung bengkak dan membuat hidung tersumbat.
 Pengobatan Rhinitis Alergi
  1. menghindari kontak langsung dengan alergen penyebabnya.
  2. antihistamin H-1, yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target, obat ini merupakan obat yang di pakai dalam lini pertama pengobatan rhinitis alergik,  seperti : Hydroxyzine (Atarax®),Diphenhydramine (Benadryl®),Chlorphenarimine (CTM®)
  3. antihistamin H - 2,  seperti : Cetirizine (Zyrtec®), Loratadine (Claritin®), Fexofenadine (Allergra®), Desloratadine (Clarinex®).
  4. dekongestan.
  5. kortikostiroid, diberikan bila sumbatan hidung tidak bisa di atasi dengan obat lain.
  6. operatif, jika terjadi hipertropi berat pada concha inferior.
  7. imunoterapi, jika gejala rhinitis alergi sudah sangat memberat dan berlangsung lama.dan cara lain tidak menunjukkan perbaikan
Rekomendasi
Untuk mengenali atau mengetahui info lebih lanjut mengenai penyakit rhinitis atau berbagai Penyakit lain anda bisa berkonsultasi langsung dengan kami. Anda bisa menghubungi 0812 2442 9800 atau bisa Klik Di Sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar