Mengenal Gejala Asfiksia

Rabu, 21 Oktober 2015
Mengenal Gejala Asfiksia, Perinatal asfiksia (berasal dari bahasa Yunani sphyzein yang artinya "denyut yang berhenti") merupakan kondisi kekurangan oksigen pada pernafasan yang bersifat mengancam jiwa. Keadaan ini bila dibiarkan dapat mengakibatkan hipoksemia dan hiperkapnia yang disertai dengan metabolik asidosis. Asfiksia timbul karena adanya depresi dari susunan saraf pusat (CNS) yang menyebabkan gagalnya paru-paru untuk bernapas.

Tanda dan gejala asfiksia neonatorum
  1. Tidak bernapas atau napas megap-megap atau pernapasan lambat (kurang dari 30 kali per menit)
  2. Pernapasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (pelekukan dada)
  3. Tangisan lemah atau merintih
  4. Warna kulit pucat atau biru (sianosis)
  5. Tonus otot lemas atau ekstremitas lemah
  6. Denyut jantung tidak ada atau lambat (bradikardi) (kurang dari 100 kali per menit).
Faktor Penyebab Asfiksia

Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir.

Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat clan bayi berikut ini:

1. Faktor ibu
  • Preeklampsia dan eklampsia
  • Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
  • Partus lama atau partus macet
  • Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
  • Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
2. Faktor Tali Pusat
  • Lilitan tali pusat
  • Tali pusat pendek
  • Simpul tali pusat
  • Prolapsus tali pusat
3. Faktor Bayi
  • Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
  • Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
  • Kelainan bawaan (kongenital)
  • Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang berpotensi untuk menimbulkan asfiksia. Apabila ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka hal itu harus dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan perlunya tindakan resusitasi. Akan tetapi, adakalanya faktor risiko menjadi sulit dikenali atau (sepengetahuan penolong) tidak dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi. Oleh karena itu, penolong harus selalu siap melakukan resusitasi bayi pada setiap pertolongan persalinan.

Penanganan asfiksia neonatorum
Aspek yang sangat penting dari resusitasi terhadap asfiksia neonatorum adalah menilai bayi, menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan tindakan resusitasi. Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata ditentukan oleh tiga tanda penting, yaitu : pernapasan, denyut jantung, dan warna kulit. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal sebagai ABC resusitasi, yaitu :

1. Memastikan saluran terbuka

  • Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm.
  • Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.
  • Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran pernafasan terbuka.
2. Memulai pernafasan
  • Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan
  • Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ETdan balon atau mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).
3. Mempertahankan sirkulasi
  • Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara
  • Kompresi dada.
  • Pengobatan.
Rekomendasi
Untuk mengenali atau mengetahui info lebih lanjut mengenai penyakit asfiksia atau berbagai penyakit lain anda bisa berkonsultasi langsung dengan kami. Anda bisa menghubungi 0812 2442 9800 atau bisa Klik Di Sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar